Laman

Selasa, 17 Juni 2014

Piala Dunia dan Pilpres

Jumat, 13 Juni 2014 lalu Piala Dunia yang diselenggarakan di Brasil dimulai. Semua orang yang ada di dunia sudah menantikan pagelaran empat tahunan ini. Salah satunya juga kita, masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang dari dulu dikenal dengan kefanatikannya pasti tidak akan melewatkan ajang empat tahunan ini, walaupun juga Indonesia belum bisa berpartisipasi di ajang empat tahunan ini. Piala Dunia Brasil ini dimulai dari tanggal 13 juni – 15 juli 2014. Para penggila bola yang ada di tanah air ini pasti tidak akan melewatkan satupun pertandingan apa lagi pertandingan-pertandingan Big Macth. Bahkan banyak diantaran mereka saling menjagokan tim-tim yang mereka anggap pantas untuk mendapatkan gelar ini. Bukan hanya itu gelar Top Scorer dan juga Pemain Terbaik menjadi bahan untuk para penggila bola saling berpendapat siapa-siapa yang layak untuk mendapatkannya.


Tak mau kalah, Indonesia juga punya ajang yang sangat ditunggu-tunggu bagi warganya. Apa lagi jika bukan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Ya, Indonesia akan memilih pemimpin baru pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan memimpin negeri ini selama lima tahun kedepan. Hal ini sangat penting karena pemilihan ini akan mempengaruhi Indonesia kedepannya akan seperti apa. Sulit sekali untuk menerka siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya, karena banyak sekali pro dan kontra terhadap dua Calon Presiden ini. Sama seperti halnya piala dunia, diantara individu memiliki jagoannya masing-masing sesuai dengan hati nuraninya.

Sebenarnya tidak ada sangkut pautnya antara Piala Dunia Brasil dan juga Pemilihan Presiden di Indonesia. Secara geografispun Brasil dan Indonesia terpaut sangat jauh, bahkan selisih waktu diantara Brasil dan juga Indonesia ini hampir 12 jam. Tapi jika dilihat lagi, masyarakat Indonesia yang fanatik akan sepak bola itu tidak sedikit. Lihat saja ketika Timnas U-19 bertanding Tour Nusantara hampir semua stadion yang digunakan untuk pertandingan persahabatan ini sangat penuh, bahkan kemarin ketika di Aceh penonton sampai membeludak ke pinggir lapangan, itu juga terjadi ketika Timnas U-19 bertanding di Semarang beberapa waktu yang lalu. Saking banyaknya penonton sampai-sampai penonton melebar sampai pinggir lapangan. Dari hal ini saja bisa dilihat jika Indonesia itu memiliki antusiasme tinggi terhadap sepak bola.

Yang jadi masalah sekarang adalah tanggal 9 Juli 2014 atau tanggal Pemilihan Presiden ini bertepatan dengan Semifinal Piala Dunia. Para pecinta bola di tanah air pasti tidak akan melewatkan pertandingan besar seperti ini. Apa lagi tanggal 9 Juli juga bertepatan dengan Bulan Ramadhan, tentunya banyak juga umat islam yang gila bola melihat pertandingan ini yang juga bertepatan dengan sahur yaitu jam 03.00 WIB. Dan kemungkinan besar banyak sekali masyarakat yang begadang (khususnya yang muslim). Setelah terawih sekitar jam 21.00 mereka berkumpul dengan keluarga ataupun teman-teman mereka hanya sekedar untuk ngobrol kesana kesini, sampai jam 01.00 dini hari mereka membangunkan keluarga mereka untuk sahur. Setelah sahur sampai jam 03.00 dilanjutkan dengan menonton pertandingan Semifinal sampai jam 05.00 belum lagi jika score imbang, harus ada tambahan waktu dan juga adu penalti. Ini diperkirakan akan selesai sampai jam 06.00 pagi. Lalu bisa dipastikan mereka yang begadang tadi akan tertidur pada saat pertandingan itu usai. Apalagi tanggal 9 Juli juga merupakan Libur Nasional karena Pemilihan Presiden, pasti banyak sekali yang lengsung tidur ketika pertandingan itu usai.

Hal tersebut berdampak pada antusiasme para pemilih untuk datang ke TPS. Mereka pasti lebih memilih untuk tertidur setelah semalam begadang (dan entah akan terbangun jam berapa) daripada untuk datang ke TPS dengan hanya waktu lima menit untuk memilih menentukan lima tahun bagi Bangsa Indonesia. Hal seperti itu memang tidak bisa diduga-duga, tetapi harus tetap diantisipasi. Ditambah lagi dengan adanya berita-berita yang tidak sehat yang disuguhkan kepada masyarakat. Setiap hari masyarakat Indonesia disuguhkan dengan berita-berita yang sangat "memprovokatif" masyarakat. Memang tidak ada salahnya, tetapi ini tidak baik untuk masyarakat saat ini. Perlunya berita tentang siapa Capres kita, seperti apa Capres kita, bagaimana Visi Misi Capres, masyarakat butuh sekali tentang hal tersebut, tetapi berita yang disajikan juga harus netral, tidak memihak kepada satu Capres saja. Contohnya saja Metrotv yang selalu membangga banggakan sosok Jokowi, seakan Jokowi itu tidak ada cacatnya. Contoh lainnya TVOne yang selalu mengagung-agungkan Prabowo seakan-akan Prabowo adalah sosok yang tepat untuk memimpin negeri ini. Belum lagi media-media sosial yang saling lempar opini terhadap dua Calon Prasiden ini.

Hal itu yang membuat masyarakat Indonesia mudah terpengaruh dan lama kelamaan akan malas dengan pemberitaan-pemberitaan yang seperti ini. Apa lagi kedua stasiun televisi itu merupakan TV nasional. yang tidak sepantasnya mereka memihak kepada salah satu capres saja. Penyediaan berita juga harus seimbang tidak memihak. Hal itu juga bisa jadi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih Presiden atau bahkan lebih memilih untuk golput.

Jika hal itu terjadi tentu sangat memprihatinkan bagi Demokrasi yang ada di Indonesia. Saya berharap hal seperti ini bisa diminimalisir karena tidak ada gunanya. Saya juga berharap masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin tidak hanya karena politik uang ataupun berita-berita yang beredar saja, tetapi juga atas dasar hati nurani mereka untuk memilih. Dan meluangkan waktu sejenak untuk datang ke TPS memilih presiden yang akan memimpin bangsa ini selama lima tahun kedepan apa salahnya sih. Meluangkan waktu lima menit saja untuk bisa menentukan lima tahun kedepan bangsa. Lima menit kita itu sangat berharga bagi Bangsa Indonesia.

Terima Kasih. Salam Sejahtera Selalu.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar